William W. Wongso : Soto Makanan Favorit Sejak Kecil
Menurutnya, yang namanya makanan favorit adalah makanan yang selalu dinikmati sejak keci hingga sekarang. Makanan itu kalau dinikmati bukan hanya enak tapi juga membuat perasaan senang.
Jatuh Cinta dengan SotoNamanya memang tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam kancah kuliner di tanah air. Lebih dari 30 tahun lamanya, William W. Wongso, berkecimpung dalam masak-memasak. Atas sumbangsihnya yang tetap konsisten terhadap dunia kuliner tanah air, beberapa waktu lalu ia menerima penghargaan dari Wakil Presiden RI. Yusuf Kalla. Meskipun berbagai jenis makanan dari berbagai daerah di tanah air dan luar negeri sudah pernah ia cicipi. Toh ia tetap seperti dulu, masih tetap suka dengan Soto Surabaya. “Sejak kecil sampai sekarang saya masih suka Soto Surabaya. Ini makanan favorit saya sejak dulu,” kata pria kelahiran kota perjuangan ini. Soto Surabaya telah membuatnya jatuh hati. Habis plesiran ke berbagai kota di Indonesia, pulang ke rumah pasti yang dicarinya adalah makanan berkuah bening dengan isi potongan daging sapi.
Cari Profil Baru Kuliner“Soto bukan hanya enak dilidah tapi sudah kena di hati. Soto membuat saya bagaimana gitu loh,” ujarnya. Menurutnya, yang namanya makanan favorit adalah makanan yang selalu dinikmati sejak keci hingga sekarang. Makanan itu kalau dinikmati bukan hanya enak tapi juga membuat perasaan senang. “Itulah yang disebut makanan favorit. Bukan baru kemarin dia makan steak, langsung dibilang steak makanan favoritnya,” Terang konsultan makanan pada maskapai penerbangan nasional Garuda. Ngomong masalah kuliner dengan Om William, begitu biasa rekan-rekan wartawan memanggilnya, amat menyenangkan. Apalagi bicara masalah kuliner Indonesia, dengan antusias sekali ia akan bicara panjang lebar. Jika selama ini ikon kuliner tanah air banyak didominasi dari daerah tertentu saja. Kini ia mulai mencoba memunculkan profil baru dari luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan, Lombok, Bangka Belitung, Flores dan daerah lainnya. Seperti yang belum lama, ia bawa dua orang profil pakar kuliner dari Samarinda dan Bangka Belitung untuk tampil menyajikan aneka masakan khas daerah masing-masing di Ritz Charlton Jakarta.
Sebuah Ironi
Usaha yang dilakukan William tersebut, ungkapnya, didorong rasa keprihatinan. “Selama ini seringkali hotel-hotel berbintang mendatangkan koki-koki ternama dari luar negeri lengkap dengan bahan-bahannya. Masa dengan penerbangan hanya 1-2 jam saja, kita tidak bisa membawa tokoh-tokoh kuliner dari berbagai daerah ke hotel berbintang,” katanya sedih. Ternyata dari sinilah, kata William, potensi kebudayaan terutama kuliner di Indonesia cukup banyak. Tapi kurang begitu digarap dengan baik oleh pemerintah setempat. Cara ia mencari profil kuliner terbilang cukup unik. “Saya terjun langsung bersama mereka mencari bahan-bahan masakan di pasar,” terangnya. Setelah bahan-bahan masakan didapat, sebagai opening, William memintanya untuk dimasak di tempat (Pasar). Hasil masakan lalu dibagi-bagikan kepada pengunjung. Setiba di rumah, William meminta memasaknya kembali. Menurutnya, makanan enak tidaklah cukup sekedar enak saja dilidah. Tapi bagaimana cara mereka mencari bahan-bahan masakan dengan kualitas baik dan mengolahnya. Semua itu berkaitan dengan intelektualitas. Jika intelektual baik, otomatis makanan yang dimasak higienis. “Kalau ke China mau cari makanan yang bersih, pergi saja ke restoran muslim. Makanan yang dimasak bersih walaupun bukan Chinese food. Soalnya, kokinya sering berwudhu untuk shalat. Dari sini saja sudah ketahuan tingkat kebersihannya. Mengenai banyak tayangan kuliner di televisi baginya cukup bagus. Hal ini bisa mempromosikan masakan suatu daerah kepada khalayak luas. Hanya saja ia menyarankan, presenter tidak sekedar bilang enak-enak saja. “Tidak bisa begitu terus,” ucapnya. “Orang makan indera perasa hanya sampai ujung lidah dan tidak sampai belakang lidah. Saya harap presenter atau reporter harus tahu banyak tentang makanan tersebut. Mereka musti bisa mendalami dan menelusuri cara masaknya seperti apa. Setidaknya pengetahuan mereka tentang makanan tidak mentah,” ujar William Wongso. administrator, 14-Aug-2008
Total View : 289 Login
Sponsored By
Indonesia Dining Guide | Singapore Dining Guide Copyright © 2007 - 2008, www.restodb.com | Privacy Policy All trademarks and registered trademarks appearing on www.restodb.com are the property of their respective owners. Use of this site is subject to express Terms & Conditions. By continuing past this page, you agree to abide by these terms. |